Viral Anak Terbangun Histeris, Kenali Night Terror

Video Viral Anak Terbangun Menangis Histeris Picu Perbincangan

Night terror kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah video viral di TikTok memperlihatkan seorang anak yang selalu terbangun histeris saat tidur. Akun @keluargaberbinar mengunggah rekaman yang menunjukkan seorang anak perempuan berusia 4 tahun bernama Binar tiba-tiba terbangun dalam kondisi panik, menangis sesenggukan, bahkan gemetar ketakutan sesaat setelah tertidur lelap.

Pemilik akun sekaligus ibunda Binar, Triya Nurul Iskandar, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bukan hal baru bagi keluarganya. Pola serupa sudah terjadi sejak Binar masih kecil dan terus muncul berulang dalam periode tertentu. Triya menjelaskan bahwa episode tersebut biasanya berlangsung beberapa hari hingga seminggu dalam satu periode, meskipun tidak muncul setiap malam.

Unggahan tersebut langsung memancing reaksi ribuan warganet. Banyak yang merasa prihatin melihat kondisi Binar, sementara sebagian lainnya langsung mengaitkan fenomena tersebut dengan night terror atau teror malam. Kolom komentar di penuhi berbagai saran dan pengalaman serupa dari para orang tua yang juga pernah menghadapi situasi yang sama dengan anak-anak mereka.

Cerita Triya: Mimpi Monster Bermata Satu

Triya menceritakan bahwa Binar terkadang masih bisa mengingat dan menceritakan isi mimpinya setelah berhasil di tenangkan. Sang anak kerap menyebut bahwa ia bermimpi bertemu monster bermata satu yang berukuran tinggi besar. Triya menduga bahwa isi mimpi tersebut berkaitan erat dengan tontonan yang di serap Binar sehari-hari.

Selain itu, Triya mengakui bahwa Binar termasuk anak yang sangat aktif secara fisik. Di siang hari, Binar sering bermain tanpa henti dan kerap melewatkan waktu tidur siang. Kombinasi antara aktivitas fisik yang padat dan kurangnya jam istirahat di duga turut memengaruhi kualitas tidur Binar di malam hari.

Triya juga mengungkapkan bahwa periode terparah terjadi pada tahun lalu. Saat itu, frekuensi dan intensitas episode terasa jauh lebih berat bagi Binar maupun keluarga. Karena merasa khawatir, Triya dan keluarga merekam beberapa momen sebagai dokumentasi pribadi sekaligus bahan pembelajaran bagi mereka sebagai orang tua. Video-video inilah yang kemudian di unggah ke TikTok dan menjadi viral.

Hasil Konsultasi Dokter: Kelelahan dan Overstimulasi

Karena kondisi Binar di nilai cukup mengganggu, Triya dan keluarga akhirnya membawa sang anak ke dokter anak untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil konsultasi menunjukkan bahwa beberapa faktor saling berkaitan dan di duga kuat menjadi pemicu kondisi tersebut. Dokter menyebutkan kombinasi antara kelelahan fisik, kurangnya waktu istirahat, dan overstimulasi sebagai faktor utama.

Overstimulasi sendiri merujuk pada kondisi di mana otak anak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu singkat. Rangsangan tersebut bisa berasal dari tontonan di gadget, aktivitas bermain yang terlalu intens, atau lingkungan yang terlalu ramai menjelang waktu tidur. Ketika otak belum selesai memproses seluruh informasi tersebut, gangguan tidur seperti night terror bisa muncul.

Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, Triya dan keluarga mulai melakukan perubahan signifikan pada pola keseharian Binar. Salah satu langkah utama yang mereka ambil yaitu membatasi penggunaan gadget secara ketat. Saat ini, Binar hanya boleh menggunakan gadget pada akhir pekan dengan durasi maksimal sekitar satu jam. Jenis tontonan juga mulai di kontrol agar tidak mengandung konten yang terlalu menyeramkan atau memicu ketakutan.

Apa Sebenarnya Night Terror Itu?

Night terror atau teror malam merupakan gangguan tidur yang termasuk dalam kategori parasomnia. Kondisi ini membuat seseorang tiba-tiba terbangun dalam keadaan panik, ketakutan hebat, berteriak, menangis, atau bahkan menendang-nendang, namun tidak sepenuhnya sadar dengan lingkungan sekitarnya. Berbeda dengan mimpi buruk biasa, night terror terjadi pada fase tidur NREM (Non-Rapid Eye Movement) atau tidur dalam, bukan pada fase REM di mana mimpi biasanya terjadi.

Dokter spesialis anak, dr. Andreas, menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman yang cukup luas di masyarakat terkait night terror. Menurutnya, night terror sebenarnya tidak berkaitan dengan mimpi buruk. Inilah yang membedakan secara fundamental antara night terror dan mimpi buruk pada umumnya. Pada anak, kondisi ini biasanya terjadi pada tahap tidur dalam, khususnya dalam dua jam pertama setelah anak tertidur.

Ciri paling khas dari night terror yaitu anak tidak merespons ketika orang tua berusaha menenangkannya. Anak tampak tidak mengenali siapa pun di sekitarnya dan sulit di ajak berkomunikasi selama episode berlangsung. Berbeda dengan mimpi buruk di mana anak langsung terbangun sepenuhnya, bisa di tenangkan, dan mampu menceritakan isi mimpinya.

Perbedaan Night Terror dan Mimpi Buruk

Banyak orang tua keliru menganggap night terror sama dengan mimpi buruk biasa. Padahal, kedua kondisi ini memiliki perbedaan mendasar yang penting untuk di pahami. Memahami perbedaan ini membantu orang tua memberikan respons yang tepat ketika anak mengalami salah satu di antaranya.

Mimpi buruk terjadi pada fase tidur REM, biasanya pada paruh kedua malam atau menjelang dini hari. Anak yang mengalami mimpi buruk akan terbangun sepenuhnya, mengenali orang di sekitarnya, bisa di tenangkan dengan pelukan atau kata-kata, dan umumnya masih mengingat isi mimpinya keesokan hari. Setelah ditenangkan, anak mungkin merasa gelisah atau takut untuk tidur kembali.

Sebaliknya, night terror terjadi pada fase tidur NREM atau tidur dalam, biasanya pada sepertiga pertama malam atau sekitar 90 menit setelah anak tertidur. Anak yang mengalami night terror tidak benar-benar terbangun meskipun matanya terbuka. Ia tidak mengenali orang tuanya, tidak merespons upaya penenangan, dan biasanya tidak mengingat kejadian tersebut sama sekali keesokan harinya. Episode night terror berlangsung beberapa menit hingga setengah jam, setelah itu anak akan kembali tidur seperti tidak terjadi apa-apa.

Siapa Saja yang Rentan Mengalami Night Terror?

Night terror paling umum terjadi pada anak-anak usia 3 hingga 12 tahun, dengan puncak kejadian pada rentang usia 5 hingga 7 tahun. Pada masa ini, otak dan tubuh anak sedang mengalami banyak perubahan yang turut memengaruhi pola tidur mereka. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Pediatric Reviews memperkirakan bahwa teror malam memengaruhi sekitar 1 hingga 6,5 persen anak-anak berusia 1 hingga 12 tahun.

Sebagian anak mungkin hanya mengalami night terror sesekali, sementara anak lainnya bisa mengalaminya lebih sering, terutama saat kelelahan atau menghadapi tekanan emosional. Menariknya, pola night terror sering muncul pada waktu yang hampir sama setiap malam, sehingga terkesan berulang dan memiliki siklus tertentu. Kondisi ini termasuk bagian normal dari proses perkembangan anak dan umumnya akan mereda serta hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

Meskipun lebih jarang, night terror juga bisa terjadi pada orang dewasa. Pada orang dewasa, kondisi ini sering berkaitan dengan stres berat, kurang tidur kronis, konsumsi alkohol berlebihan, atau gangguan tidur lain seperti sleep apnea. Berbeda dengan anak-anak, orang dewasa yang mengalami night terror kadang masih bisa mengingat fragmen dari apa yang mereka alami.

Faktor Pemicu Night Terror pada Anak

Penyebab pasti night terror hingga saat ini memang belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli medis. Namun, beberapa faktor diduga kuat berperan sebagai pemicu munculnya episode teror malam pada anak-anak. Memahami faktor-faktor ini membantu orang tua mengambil langkah preventif yang tepat.

Kurang tidur atau hutang tidur menjadi pemicu utama yang paling sering ditemukan. Ketika anak tidak mendapatkan jam tidur yang cukup, baik karena melewatkan tidur siang maupun tidur terlalu larut malam, risiko mengalami night terror meningkat secara signifikan. Dr. Andreas menegaskan bahwa night terror berkaitan erat dengan hutang tidur, sehingga orang tua harus memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang memadai.

Kelelahan fisik juga menjadi faktor penting. Anak yang terlalu aktif bermain di siang hari tanpa istirahat yang cukup cenderung mengalami gangguan pada transisi fase tidurnya. Selain itu, stres emosional pada anak, perubahan lingkungan, jadwal tidur yang tidak konsisten, serta demam atau kondisi sakit turut berkontribusi sebagai pemicu.

Faktor lain yang tidak kalah penting yaitu overstimulasi menjelang waktu tidur. Paparan layar gadget, tontonan yang menakutkan, permainan yang terlalu menstimulasi, atau suasana rumah yang ramai sebelum tidur bisa membuat otak anak kesulitan melakukan transisi dari keadaan aktif ke keadaan tidur yang tenang. Dalam beberapa kasus, riwayat keluarga juga berperan karena night terror memiliki komponen genetik.

Cara Tepat Menghadapi Episode Night Terror

Ketika anak mengalami episode night terror, respons orang tua sangat menentukan keamanan dan kenyamanan anak. Dr. Andreas memberikan panduan sederhana namun penting bagi para orang tua. Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu tetap tenang dan tidak panik meskipun pemandangan anak yang menjerit histeris tentu sangat mengkhawatirkan.

Orang tua sebaiknya tidak berusaha membangunkan anak secara paksa selama episode berlangsung. Membangunkan anak justru bisa memperburuk situasi dan membuat anak semakin bingung serta ketakutan. Sebaliknya, orang tua cukup mengawasi anak dari dekat untuk memastikan keamanannya. Pastikan tidak ada benda-benda tajam atau berbahaya di sekitar tempat tidur yang bisa melukai anak.

Orang tua bisa berbicara dengan nada lembut dan menenangkan meskipun anak mungkin tidak sepenuhnya merespons. Hindari menahan anak secara fisik karena hal tersebut justru bisa meningkatkan stres. Setelah sekitar 5 hingga 10 menit, anak biasanya akan kembali tenang dan melanjutkan tidurnya secara normal. Dr. Andreas menekankan bahwa pada dasarnya night terror cukup didiamkan saja dan akan hilang sendiri setelah beberapa waktu.

Langkah Pencegahan agar Night Terror Tidak Berulang

Meskipun tidak ada pengobatan yang sepenuhnya bisa menghilangkan night terror pada anak-anak, orang tua bisa mengambil berbagai langkah pencegahan untuk mengurangi frekuensi dan intensitasnya. Kunci utamanya terletak pada penerapan pola tidur yang sehat dan konsisten.

Pertama, pastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup sesuai usianya. Anak usia 3 hingga 5 tahun membutuhkan sekitar 10 hingga 13 jam tidur per hari, termasuk tidur siang. Tetapkan jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, bahkan di akhir pekan, agar ritme sirkadian anak terjaga dengan baik.

Kedua, ciptakan rutinitas menjelang tidur yang menenangkan. Sekitar satu jam sebelum waktu tidur, kurangi intensitas cahaya di kamar, matikan gadget dan televisi, serta ajak anak melakukan aktivitas santai seperti membaca buku cerita, mendengarkan musik lembut, atau mandi air hangat. Hindari aktivitas fisik yang terlalu intens atau tontonan yang menstimulasi menjelang waktu tidur.

Ketiga, batasi penggunaan gadget secara bijak, seperti yang sudah diterapkan oleh keluarga Binar. Paparan layar berlebihan tidak hanya memicu overstimulasi tetapi juga mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. Keempat, jaga agar kamar tidur tetap nyaman, sejuk, dan gelap. Singkirkan perangkat elektronik dari kamar tidur anak untuk mengurangi godaan.

Kapan Harus ke Dokter?

Night terror pada anak umumnya memang tidak berbahaya dan akan mereda seiring bertambahnya usia. Namun, orang tua tetap perlu waspada terhadap kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan pemeriksaan medis lebih lanjut. Mengetahui batas antara kondisi normal dan kondisi yang memerlukan penanganan profesional sangat penting bagi setiap orang tua.

Segera konsultasikan ke dokter anak jika night terror terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu secara berturut-turut. Demikian pula jika episode berlangsung sangat lama, melebihi 30 menit, atau jika anak sampai menyakiti dirinya sendiri atau orang lain selama episode berlangsung. Kondisi yang juga memerlukan perhatian medis yaitu jika night terror menyebabkan rasa kantuk berlebihan atau kelelahan di siang hari yang mengganggu aktivitas anak.

Dokter mungkin akan melakukan evaluasi untuk memastikan tidak ada gangguan tidur lain yang mendasari, seperti sleep apnea atau gangguan saluran pernapasan saat tidur. Dalam beberapa kasus yang jarang, dokter bisa merekomendasikan terapi perilaku kognitif, teknik relaksasi, atau konsultasi dengan psikolog anak jika stres atau kecemasan menjadi faktor pemicu utama.

Pesan Penting bagi Orang Tua

Kisah viral Binar memberikan pelajaran berharga bagi jutaan orang tua di Indonesia. Night terror memang terlihat menakutkan dan mengkhawatirkan, namun kondisi ini pada dasarnya merupakan bagian normal dari proses perkembangan anak yang akan membaik seiring waktu. Yang terpenting, orang tua tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika anak mengalami kondisi ini.

Langkah yang diambil keluarga Binar patut dijadikan contoh. Mereka tidak panik berlebihan, melainkan segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penjelasan medis yang tepat. Setelah memahami penyebabnya, mereka langsung menerapkan perubahan pola hidup yang konkret, mulai dari membatasi screen time hingga mengontrol jenis tontonan anak. Pendekatan yang tenang, informatif, dan proaktif seperti ini merupakan respons terbaik yang bisa diberikan orang tua ketika menghadapi night terror pada anak mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Navigation