Gubernur Banten Kunjungi Langsung Rumah Agista
Pelukis cilik Agista Saputri akhirnya mendapat kepastian untuk kembali mengenyam pendidikan setelah Gubernur Banten Andra Soni mengunjungi langsung kediamannya. Kunjungan tersebut berlangsung pada Selasa 17 Februari 2026 di Kelurahan Sudimara Selatan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Andra Soni datang ke rumah semipermanen berukuran 4 kali 4 meter yang menjadi tempat tinggal Agista bersama keluarganya.
Agista Saputri yang baru berusia 10 tahun ini sebelumnya menjadi sorotan publik setelah videonya melukis di pelataran parkir minimarket viral di media sosial. Bocah perempuan ini memilih menjual lukisan buatannya kepada pengunjung minimarket, alih-alih mengemis, demi membantu perekonomian keluarga. Kisah perjuangan Agista menyentuh hati banyak orang, termasuk orang nomor satu di Provinsi Banten.
Gubernur Andra Soni langsung memberikan jaminan bahwa Agista dan kakaknya, Indah Ayu Safitri yang berusia 15 tahun, akan kembali duduk di bangku pendidikan. Pemerintah Provinsi Banten menyiapkan fasilitas melalui program Sekolah Rakyat (SR) yang memang di rancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kisah Pilu Agista yang Viral di Media Sosial
Agista Saputri setiap hari memanggul mimpinya sendiri, bukan dengan tas sekolah melainkan dengan lukisan yang ia jajakan di Pasar Lembang, Ciledug. Di usia yang seharusnya di isi dengan belajar dan bermain, gadis kecil ini justru harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, Agista menunjukkan karakter yang luar biasa kuat untuk seorang anak seusianya.
Warga sekitar mengenal Agista sebagai anak yang pantang mengemis. Ia lebih memilih menghasilkan uang dengan menjual karya seninya sendiri. Setiap lukisan yang ia buat di jual dengan harga sangat terjangkau, berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per karya. Meskipun hasilnya tidak seberapa, Agista tetap konsisten berkarya dan menjajakan lukisannya di kawasan Pasar Lembang.
Sebelum viral, Agista kerap terlihat melukis di pelataran parkir minimarket sambil menawarkan hasil karyanya kepada pengunjung yang datang berbelanja. Bakat seni lukisnya yang menonjol membuat banyak orang terkesan. Setelah videonya menyebar luas di media sosial, perhatian publik tertuju pada kisah hidup bocah berbakat ini.
Selain mengisi waktu dengan melukis, Agista juga membantu orang tuanya memulung barang bekas. Kehidupan sehari-hari keluarganya sangat sederhana, bahkan bisa di katakan serba kekurangan. Namun semangat Agista untuk terus berkarya melalui lukisan menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menyaksikan kisahnya.
Kondisi Keluarga yang Serba Keterbatasan
Ayah Agista, Roni Hidayatna yang berusia 45 tahun, bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan sekitar Rp350.000 per minggu. Pendapatan tersebut harus ia gunakan untuk menghidupi seluruh anggota keluarga. Kondisi ekonomi yang sangat terbatas ini membuat kedua putrinya, Agista dan Indah Ayu Safitri, terpaksa putus sekolah.
Keluarga Roni tinggal di hunian semipermanen berukuran 4 kali 4 meter di Kelurahan Sudimara Selatan. Rumah kecil tersebut menjadi saksi bisu perjuangan keluarga ini dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Meskipun hidup dalam keterbatasan, Roni tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Permasalahan keluarga Agista bertambah kompleks karena dokumen administrasi kependudukan mereka hilang akibat banjir saat masih tinggal di Jakarta. Kehilangan dokumen ini menjadi kendala serius yang menghalangi Agista dan kakaknya untuk mengakses layanan pendidikan dan layanan publik lainnya. Tanpa dokumen kependudukan yang lengkap, proses pendaftaran sekolah menjadi sangat sulit.
Kondisi inilah yang membuat Agista harus meninggalkan bangku sekolah. Meskipun belum mengenyam pendidikan formal secara tuntas, gadis kecil ini menyimpan harapan sederhana: bisa kembali bersekolah dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pelukis profesional.
Andra Soni Jamin Agista dan Kakaknya Sekolah Lagi
Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmennya untuk memastikan Agista dan kakaknya kembali mengenyam pendidikan. Ia mengarahkan kedua anak tersebut untuk masuk ke program Sekolah Rakyat yang merupakan inisiatif pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Pemerintah telah menyiapkan fasilitas melalui Sekolah Rakyat. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu terus diperluas. Kami pastikan Agista dan kakaknya kembali sekolah,” tegas Andra Soni.
Selain menjamin kelanjutan pendidikan, Gubernur juga menyoroti pentingnya kelengkapan dokumen administrasi kependudukan. Andra Soni langsung menginstruksikan aparat kecamatan dan kelurahan setempat untuk segera menuntaskan kendala administrasi yang dialami keluarga Agista. Percepatan penyelesaian dokumen adminduk ini sangat penting agar keluarga tersebut tidak lagi terhambat dalam mengakses berbagai layanan publik.
Langkah cepat Gubernur Banten ini menunjukkan respons pemerintah daerah yang tanggap terhadap permasalahan warga. Kunjungan langsung ke rumah Agista membuktikan bahwa Andra Soni tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga turun ke lapangan untuk melihat kondisi riil masyarakat.
Sekolah Rakyat: Program Pendidikan untuk Warga Kurang Mampu
Sekolah Rakyat menjadi solusi utama yang ditawarkan pemerintah untuk mengatasi masalah putus sekolah yang dialami Agista dan kakaknya. Program ini merupakan bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia.
Di Provinsi Banten sendiri, Sekolah Rakyat telah beroperasi di beberapa lokasi, termasuk di Kota Serang yang memfasilitasi anak-anak putus sekolah untuk kembali belajar. Program ini menyediakan akses pendidikan gratis bagi anak-anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan di sekolah reguler karena kendala ekonomi maupun administratif.
Roni Hidayatna menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas kehadiran serta kepedulian Gubernur Banten. Baginya, kunjungan ini memberikan harapan baru bagi masa depan putra-putrinya yang selama ini terhalang oleh keterbatasan ekonomi dan masalah administrasi.
“Tadi diarahkan agar anak-anak sekolah lagi di SR. Proses administrasinya juga sedang diurus oleh petugas. Kami sangat berterima kasih atas perhatian Bapak Gubernur Andra Soni,” ujar Roni dengan penuh rasa haru.
Instruksi Blusukan untuk Seluruh Aparat Pemerintah
Gubernur Andra Soni tidak berhenti pada penanganan kasus Agista saja. Ia menginstruksikan seluruh jajaran aparat pemerintah untuk lebih peka serta memperhatikan kondisi warga di wilayah masing-masing. Langkah proaktif ini dinilai krusial guna memastikan persoalan layanan publik dan hak-hak dasar masyarakat tertangani secara cepat dan tepat sasaran.
Andra Soni menekankan bahwa persoalan yang dialami Agista merupakan cerminan dari kemungkinan adanya kasus serupa di wilayah lain di Banten. Oleh karena itu, ia meminta para pejabat kewilayahan untuk lebih sering turun ke lapangan atau blusukan guna melakukan pengecekan faktual terhadap kondisi warganya.
“Jika ditemukan persoalan serupa, segera koordinasikan dan selesaikan. Jangan memandang asal daerah mana pun, selama mereka adalah Warga Negara Indonesia, kita memiliki kewajiban untuk membantu,” pungkas Gubernur Banten tersebut.
Instruksi ini menunjukkan pendekatan kepemimpinan Andra Soni yang mengutamakan kerja lapangan. Ia tidak menginginkan aparatnya hanya bekerja di belakang meja, melainkan aktif menjangkau masyarakat untuk mendeteksi dan menyelesaikan permasalahan sejak dini. Pendekatan blusukan ini diharapkan mampu menjaring kasus-kasus serupa yang mungkin luput dari perhatian selama ini.
Bakat Luar Biasa yang Perlu Didukung
Agista Saputri memiliki bakat seni lukis yang sangat menonjol untuk anak seusianya. Kemampuannya menggoreskan kuas di atas kanvas sudah terlihat matang meskipun ia belum pernah mendapat pendidikan formal di bidang seni. Bakat alami ini menjadi modal berharga yang perlu terus dikembangkan melalui pendidikan dan pembinaan yang tepat.
Masyarakat yang menyaksikan karya Agista melalui video viral di media sosial banyak yang terkesan dengan kualitas lukisannya. Untuk seorang anak berusia 10 tahun yang belajar melukis secara otodidak, hasil karyanya menunjukkan potensi besar yang bisa berkembang jauh lebih baik jika mendapat bimbingan profesional.
Setelah videonya viral, Agista menerima bantuan peralatan melukis dari masyarakat yang tergerak hatinya. Bantuan ini memungkinkan ia untuk terus berkarya dengan peralatan yang lebih memadai. Namun, yang paling dibutuhkan Agista bukan sekadar bantuan peralatan, melainkan kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan formal.
Dengan kembali bersekolah melalui program Sekolah Rakyat, Agista berpeluang mengembangkan bakatnya secara lebih terarah. Pendidikan akan membuka cakrawala pengetahuan yang lebih luas bagi gadis kecil ini, tidak hanya di bidang seni lukis tetapi juga di berbagai bidang lainnya yang akan menunjang masa depannya.
Respons Cepat Layanan Publik Jadi Kunci
Kasus Agista Saputri memberikan pelajaran penting tentang pentingnya respons cepat layanan publik dalam menangani permasalahan warga. Keterlambatan dalam mendeteksi dan menangani kasus seperti ini bisa berdampak serius pada masa depan anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar di usia emas mereka.
Gubernur Andra Soni menilai bahwa sistem deteksi dini terhadap masalah sosial di tingkat kelurahan dan kecamatan perlu diperkuat. Aparatur pemerintah di level paling bawah harus menjadi garda terdepan dalam mengidentifikasi warga yang membutuhkan bantuan, khususnya di bidang pendidikan dan layanan dasar lainnya.
Pemerintah Provinsi Banten juga menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen memastikan kendala administratif seperti dokumen kependudukan tidak lagi menjadi penghalang bagi warga dalam mengakses hak-hak dasarnya.
Kisah Agista menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk pembangunan dan modernisasi, masih banyak anak-anak Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan hak pendidikan mereka. Kepedulian pemimpin daerah yang turun langsung ke lapangan bisa menjadi jembatan harapan bagi mereka yang selama ini termarjinalkan. Semangat Agista yang memilih berkarya melalui lukisan ketimbang mengemis patut menjadi inspirasi, dan sudah selayaknya mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.